Absensi Menggunakan Mesin Sidik Jari VS RFID Pada Perusahaan Manufaktur

Pertama kali yang kami pikir sangat ideal untuk absensi adalah menggunakan sistem sidik jari, karena dengan sidik jari, karyawan tidak akan bisa ‘titip absen’. Memang ini  adalah salah satu keunggulan dari absensi sidik jari. Tapi.. dibalik keunggulan ini, ternyata terdapat beberapa kelemahan.

Satu kata untuk mengimplementasikan sistem Absensi menggunakan Mesin Sidik Jari pada perusahaan Manufaktur (bukan pada perusahaan tipe kantor), adalah: Sulit!

Kenapa?

Ada 3 alasan utama masalah yang dihadapi ketika mengimplementasikan sistem sidik jari pada perusahaan Manufaktur:

  1. Masalah kebersihan jari
  2. Masalah Gender (jenis kelamin)
  3. Waktu yang dibutuhkan untuk membaca sidik jari

Pada saat merekam jari karyawan, jari harus benar-benar dalam keadaan bersih. Kalau tidak bersih, maka sidik jari akan sulit terekam. Pengalaman kami, proses perekaman jari karyawan saja ternyata cukup sulit! Untuk proses perekaman, 1 jari harus dibaca 2x untuk verifikasi, jadi untuk 2 jari dibutuhkan 2×2=4x proses perekaman. Dalam proses pembacaan dan verifikasi, sistem seringkali gagal, sehingga harus diulang dari awal lagi. 1 karyawan bisa membutuhkan waktu 3 sampai 5 menit. Bayangkan jika harus merekam 2000 karyawan! 3×2000 menit = 6000 menit = 100 jam / 8 jam = 12.5 hari kerja!

Masalah Gender (Jenis Kelamin), juga ternyata bikin masalah juga! Aneh ya? Tapi begitulah yang kami temukan di lapangan. Ternyata perempuan lebih sulit dibaca sidik jarinya dibandingkan laki-laki. Alasan yang kami pikir cukup masuk akal, adalah karena jari perempuan lebih kecil dan lebih halus tekstur sidik jarinya, sehingga setting cahaya (contrast) harus dikurangi. Alasan lainnya adalah: dalam pekerjaannya sehari-hari, ternyata sidik jari para perempuan banyak yang cacat sehingga tidak bisa dibaca oleh mesin sidik jari.

Masalah yang ketiga adalah: Waktu yang dibutuhkan untuk membaca sidik jari. Masalah ini sangat terkait dengan point 1 dan 2. Pada saat perekaman sidik jari, jari karyawan harus dalam keadaan benar-benar bersih. Pada kenyataannya, sewaktu karyawan masuk / pulang, tangannya sudah dalam keadaan kotor; belum lagi karyawan perempuan, walaupun tangannya dalam keadaan lebih bersih, tetap saja gagal absen. Jika sudah gagal, karyawan akan berusaha mengulang kembali, karena jika tidak, mereka dianggap tidak masuk kerja. Untuk 1x baca yang normal, dibutuhkan waktu sekitar 5 detik. Dan jika gagal, maka dibutuhkan waktu sekitar 13 detik. Untuk skala perusahaan Manufaktur, waktu absen 13 detik tidak bisa ditolelir, karena antrean akan menjadi sangat panjang! Dampaknya juga bisa sangat panjang: terjadi dorong-mendorong dalam antrian, karyawan jadi malas absen, demo, bahkan terjadi pengrusakan pada mesin.

Setelah ujicoba selama 2 minggu (3 shift), kami temukan bahwa keberhasilan Absensi menggukan sidik jari hanya 30%. Jelas hasil ini tidak bisa diterima oleh perusahaan.

Pertanyaan: Bagaimana dengan mesin absen Telapak Tangan? Kami juga sudah mencobanya. Hasilnya scannernya memang lebih baik dbanding sidik jari, tapi sayangnya, waktu pembacaan lebih lama, sekitar 7 detik dalam keadaan normal. Lagipula, harganya lebih mahal.. hmm..

Posted on April 15, 2013, in Alat Safety Dan Keamanan Lainnya and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: